Menjadi Ayah yang Hebat!

Tak bisa dipungkiri bahwa peranan ayah sangat besar dan penting dalam suatu keluarga. Ayah memang bukan yang melahirkan buah hati tercinta, tetapi peranan ayah dalam tugas perkembangan anak sangat dibutuhkan. Tugas ayah selain untuk menafkahi keluarga, ayah juga diharapkan menjadi teman dan guru yang baik untuk anak.

Anak dalam masa perkembangannya membutuhkan segala pengetahuan di segala bidang. Di sinilah peranan ayah sangat penting. Kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh kromosom X- kromosom yang berasal dari ibu. Faktor genetik memang sangat mempengaruhi perkembangan anak, tetapi tugas ayah pula dalam perkembangan otak dan nalar anak.

Dalam membicarakan kecerdasan anak, tak cukup dinyatakan dengan IQ (intelligence quotient). Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang tak memahami masalah ini. Masih banyak pula yang mengaitkan antara kecerdasan dengan IQ, padahal keduanya sama sekali berbeda.

Kecerdasan adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah dan berpikir rasional di dalam lingkungannya. Sedangkan IQ hanyalah nilai yang diperoleh melalui sebuah tes kecerdasan. Jadi, anggapan masyarakat tentang kedua hal ini sangatlah berbeda.

Kekurangan psikologis anak jika tak dibantu seorang ayah dalam perkembangannya akan mudah dijumpai. Kekurangan psikologis ini antara lain anak menjadi orang yang pesimis, tidak punya percaya diri, gangguan psikoseksual, sulit beradaptasi dengan lingkungannya dan sulit mempunyai kepedulian sosialnya.

Memberi contoh kepemimpinan, membuat anak menjadi individu yang disiplin dan mandiri, mengajarkan anak bersosialisasi di lingkungannya dan mengajarkan berpikir rasional- logis adalah salah satu peranan ayah dalam keluarga.

Seorang ayah diharapkan juga untuk tidak memaksa anak melewati batas potensialnya. Hal ini memang banyak terjadi pada masa sekarang. Keseimbangan dalam kegiatan bersama anak sangat diperlukan, misalnya dengan kegiatan indoor-outdoor seperti rekreasi ke alam terbuka.

Kesadaran ayah dalam mendidik janganlah suatu tindakan yang terpaksa. Seorang ayah harus mengetahui apa yang anak perlukan darinya. Pada dasarnya, seorang ayah harus tahu bahwa posisinya itu harus menjadi pembimbing, guru, kawan dan pelindung. Menanamkan moral spiritual pada anak sepatutnya jangan lupa diberikan oleh ayah. Jika ayah tidak memberikan pendidikan moral spiritual, anak menjadi seorang dengan jiwa yang anarkis dan menjadi individu yang melanggar aturan atau norma.

Berikut ini adalah kiat-kiat menjadi ayah yang hebat:

1. Meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga

2. Bermain dengan anak

3. Memberikan keteladanan dengan bijaksana

4. Mengakui kesalahan, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada anak

5. Menjadi penyemangat dan pendukung anak

6. Menjadi pendengar yang baik jika anak sedang mengutarakan permasalahannya

7. Menghindari tindakan kasar yang merugikan fisik dan psikologi anak

8. Mengajak anak untuk berolah-raga dan tamasya

Anak harus merasa senang dan nyaman didampingi orang tuanya. Anak mempunyai cara belajar yang ia sukai dan hal ini harus diperhatikan bagi orang tua. Situasi belajar yang baik dan efektif harus diciptakan. Dalam hal ini, ayah juga mempunyai peranan penting dalam memotivasi belajar anak dengan baik.

Jika hal ini dapat diterapkan oleh para ayah, maka akan banyak anak-anak Indonesia yang ceria dan bahagia. Oleh karena itu, saya mengajak para orang tua agar saling bekerjasama dalam rangka menciptakan keluarga yang bahagia.

Sumber: wikimu

5 Mitos Tentang Ayah

Sebentar lagi akan menjadi ayah? Hm, pasti membanggakan. Tapi juga barangkali membingungkan, karena selama ini Anda sudah mendengar banyak mitos tentang bagaimana seharusnya menjadi ayah yang baik. Yuk, kita simak satu persatu mitos yang kerap didengar dan bagaimana fakta sesungguhnya. Yakin, deh, Anda bisa menjadi ayah teladan bagi si kecil dan keluarga tercinta.

Mitos 1: Yang penting, perasaan calon ibu
Selama kehamilannya, perubahan tubuh pasangan akan terlihat mengagumkan, yang membuat Anda berpikir, saat ini yang terpenting adalah perasaan yang dirasakan oleh istri serta keadaan fisik dan kesehatan mentalnya. Padahal, perasaan Anda sebagai ayah juga penting.

Mudah bagi calon ayah yang sedang menanti kelahiran anaknya untuk membicarakan hal-hal positif tentang bagaimana menjadi seorang ayah. Yang lebih sulit adalah mengungkapkan perasaaan takut atau cemas yang pasti juga dirasakan. Misalnya, apakah saya akan pingsan pada saat istri melahirkan? Apakah akan terjadi komplikasi medis? Bagaimana perubahan hubungan dengan pasangan? Dapatkah saya melanjutkan karier saya dan menjadi ayah yang saya cita-citakan?

Pasangan Anda perlu mendengar dan mengetahui apa yang Anda rasakan. Katakan dengan jujur. Banyak suami yang menyimpan kegamangan terhadap kehamilan atau menjadi seorang ayah karena mereka tidak ingin menambah kekhawatiran yang dirasakan oleh istri mereka. Jangan takut! Kebanyakan wanita mengharapkan interaksi dari Anda dan mereka tahu bahwa menjadi seorang ayah merupakan tantangan.

Membagi perasaan takut Anda dengan istri justru akan mendekatkan hubungan Anda berdua. Anda pun dapat berbincang-bincang dengan calon ayah lainnya, membaca buku, atau menghadiri seminar mengenai ini. Biarkan diri Anda dan pasangan mengekspresikan perasaan gembira dan ketakutan Anda berdua.

Mitos 2: Bayi tidak terlalu memerlukan ayahnya
Kedekatan hubungan antara pasangan Anda dan sang bayi, terutama bila dia menyusui, membuat Anda tidak yakin, apakah si bayi memerlukan Anda atau tidak. Percayalah, si kecil tetap memerlukan ayahnya. Anda merupakan seseorang yang penting di dalam kehidupannya dan berada bersama Anda membuat rasa nyaman baginya.

Untuk terikat dengan si kecil, Anda harus menggendongnya, mencium, dan membelainya. Dan begitu bayi Anda sudah mulai makan, Anda akan mendapatkan perhatian penuh darinya. Bergantian dengan pasangan memberinya makan atau bermain dengannya, memberikan waktu kepada pasangan untuk beristirahat, dan memberikan kesempatan kepada istri untuk mengembalikan energinya. Jangan lupa, Anda membuat perubahan di dalam keluarga Anda.

Mitos 3: Pria tidak tahu cara merawat anak
Hal ini tidak benar, dan membuat para ayah tidak memiliki hubungan yang dekat dengan bayi mereka, sekaligus menyebabkan kekhawatiran yang tidak perlu bagi para ibu baru karena merasa takut pasangan mereka tidak dapat merawat buah hati yang baru lahir. Pada kenyataannya, ayah dapat merawat anak-anaknya.

Setiap orang dapat belajar menjadi seorang ayah. Bila Anda meluangkan waktu bersama si kecil, Anda pun akan peka terhadap kebutuhan mereka. Untuk membuktikannya, biarkan istri pergi berbelanja agar Anda dapat mengurus buah hati sendirian. Biarkan istri tahu, Anda dapat merawat si kecil.

Mitos 4: Pria yang perhatian pada anak tidak konsentrasi di kariernya
Pria dibesarkan dan dididik untuk bekerja dan pekerjaan merupakan sumber utama yang sangat penting bagi mereka dalam memberi nafkah bagi keluarganya. Pekerjaan merupakan salah satu kunci dari rasa percaya diri mereka. Masyarakat menilai, pria yang mengorbankan hidupnya dan memilih keluarga daripada kariernya adalah karena mereka tidak sukses di dalam pekerjaannya.

Tetapi kini zaman sudah berubah. Banyak pria yang merasa peran ayah sangat berarti dan justru meningkatkan status ayah. Ada pria yang dengan sukarela menukar kariernya dengan keluarganya karena merasa peran ayah sangat bernilai dan bukan karena mereka tidak berhasil di dalam kariernya. Masa kini lebih banyak pria yang merasa menjadi seorang ayah merupakan prestasi yang penting di dalam kehidupan dan memprioritaskannya karena mereka memang menginginkannya.

Mitos 5: Anda ditakdirkan untuk menjadi seperti ayah Anda
Ayah Anda akan memberi banyak masukan pada begitu Anda menjadi seorang ayah. Dalam merawat anak, biasanya Anda akan mengikuti cara ayah Anda ketika ia membesarkan Anda. Hal ini wajar saja. Tetapi ayah Anda bukanlah satu-satunya contoh. Dia hanya merupakan salah satu pengaruh bagi Anda. Anda dapat melihat orang-orang yang dekat dan pernah dekat dengan Anda seperti guru Anda, pelatih, teman-teman, kakak laki-laki, paman Anda, dan sebagainya.

Jadi, ciptakan identitas Anda sendiri sebagai seorang ayah. Tidak ada satu model yang konsisten untuk menjadi seorang ayah yang baik. Perbedaan budaya membentuk peran ayah dengan cara yang beragam. Bagi orang tua zaman dulu, menjadi seorang ayah yang baik berarti memberikan keluarga Anda rumah, makanan, dan pendidikan. Namun mungkin para ayah zaman dulu tidak meluangkan waktunya sebanyak waktu yang disediakan oleh ayah masa kini terhadap anak-anaknya. Tetapi mereka melakukan yang terbaik menurut mereka.

Nah, Anda pun harus memilih yang terbaik bagi keluarga Anda. Coba lihat peran ayah semasa Anda tumbuh besar dan kembangkan segala kemungkinannya. Ambillah sisi positif dari keluarga di mana Anda dibesarkan dan tambahkan hal-hal positif yang menurut Anda baik yang dulu tidak Anda dapatkan.

Sumber : Kompascybermedia

Persiapan keuangan Menjelang Kehamilan

Anda dan pasangan ngebet punya anak? Ada yang perlu Anda cermati, salah satunya adalah persiapan keuangan. Kehadiran anak tentu akan mengubah kondisi keuangan. Itu sebabnya, sebelum hamil, Anda berdua perlu meninjau kembali persiapan keuangan secara bersama-sama.

Bagi pasangan yang memperoleh penghasilan ganda atau suami istri bekerja, masing-masing berhak mempertanyakan kepada perusahaan, hak apa yang akan diperleh selama masa kehamilan, saat melahiran dan masa perawatan anak yang rutin seperti imunisasi.

Selenjutnya, Anda bisa menghitung secara rinci persiapan keuangan, yakni

  • Biaya pemeriksaan rutin, mulai dari bidan, dokter umum hingga dokter spesialis kandungan. Termasuk pula berapa kali biasanya calon ibu harus memeriksakan kehamilannya.
  • Biaya melahirkan secara normal (secara bertahap meliputi biaya persalinan di rumah bersalin hingga rumah sakit, serta biaya penolong persalinan mulai dari bidan hingga dokter bersalin)
  • Biaya melahirkan secara caesar, bila persalinan normal tidak mungkin dilakukan (sesuai kelas masing-masing rumah sakit)
  • Biaya-biaya yang dibutuhkan untuk merawat dan kebutuhan bayi

Jika ternyata Anda berdua secara finansial sudah siap, itu berarti Anda berdua sudah selangkah lebih maju.

Tips Memanfaatkan bulan Madu kedua

•    Persiapkan perjalanan sebaik mungkin. Pastikan akomodasi dan transportasi tidak memiliki potensi masalah. Bila perlu minta bantuan biro perjalanan terpercaya.
•    Pilih tempat yang membawa Anda kembali pada kenangan indah saat Anda pertama kali berjumpa atau bulan madu pertama.
•    Lupakan untuk sementara urusan kantor, anak (bisa dititipkan pada orang tua atau kerabat yang dapat dipercaya), berbagai masalah yang menjadi sumber keretakan.
•    Cobalah “memanggil” kembali (recall) kenangan indah melalui hal-hal sederhana. Misalnya, untuk komunikasi yang lebih hangat, panggillah pasangan dengan nama sayang Anda ketika masih berpacaran. Atau, kenakan pakaian atau wewangian yang disukai pasangan apabila Anda mengenakannya.
•    Persiapkan pula strategi untuk memperbaiki hubungan. Artinya, nikmati perjalanan, keintiman dan kehangatan saat bersama pasangan, tetapi dengan tetap mengerjakan “PR” yang Anda bawa dari rumah (baca subjudul “Honeymoon Kedua …”. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. PR berlanjut hingga hari-hari sepulang bulan madu.

Kiat Sukses Bagi Pasangan Menghadapi Krisis

Semua masih lekat dalam ingatan Leva dan Deni, betapa manisnya awal cinta kasih mereka. Hingga akhirnya mereka bersatu dalam mahligai perkawinan. Masih lekat juga ingatan mereka, ketika si kecil hadir dalam rumah mungil hasil kerja keras bersama. Tetapi kini semua seolah lenyap ditelan bumi. Rumah demikian suram, si kecil menjadi rewel. Leva menangis di kamarnya. Deni di tempat lain, juga mempertanyakan ke mana arah bahtera perkawinan ini akan dibawa.

Memikirkan kesempatan kedua. Pertengkaran dan pertentangan dalam 5 – 7 tahun pernikahan bukanlah sesuatu yang janggal. Demikian hasil berbagai studi yang pernah dilakukan. Namun ketika kemarahan dan perseteruan berlanjut menjadi rasa kecewa dan luka mendalam, biasanya masing-masing pasangan mulai berpikir, “Bagaimana hubungan kami bisa menjadi seburuk ini?”.

Menurut David Wilchfort, terapis perkawinan di Munich, Jerman, menekankan agar pasangan muda tidak tergesa-gesa memutuskan untuk mengakhiri hubungan. “Sebuah kesempatan kedua bisa menjadi pilihan dan sukses dilalui banyak pasangan suami-istri dalam krisis,” jelasnya. Syaratnya, masing-masing pasangan melangkah bersama dengan pandangan yang tepat, terutama terhadap upaya membangun kembali “puing-puing” rumah tangga yang sempat berserakan.

Tentu saja sayang meninggalkan begitu saja kenangan manis yang pernah Anda alami berdua pasangan. Jika Anda masih memiliki harapan  bersama pasangan untuk berjuang meniti masa depan, Anda perlu mengikuti saran David untuk menjawab beberapa pertanyaan kritis.

Pertanyaan-pertanyaan kritis.
Leva dan Deni sebenarnya menyadari bahwa ketika hubungan mereka tak lagi dapat disatukan, jika dilihat dari aspek manapun, maka perkawinan mereka terancam bubar. Namun sebagaimana pasangan lain yang juga sedang dalam  krisis, hari-hari begitu membingungkan. Di suatu hari, masalah mereka nampak begitu jelas, dan tak ada lagi yang dapat diselamatkan. Tapi di hari lain, masing-masing masih merasa saling menyayangi dan menyesal, mengapa hubungan mereka retak.

Untuk meluruskan benang kusut dalam hati pasangan seperti Leva dan Deni, David menyarankan masing-masing untuk mempertanyakan diri mereka secara kritis. Lalu jawab dalam hati.  Berikut pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa masing-masing kepada jawaban, ke mana rumah tangga ini akan dibawa.
•    Apakah salah satu dari Anda bersikap tidak loyal satu sama lain?
•    Apakah Anda masih saling menghormati satu sama lain?
•    Apakah Anda bersama-sama dapat berkembang dalam perkawinan ini?
•    Apakah Anda berdua masih dapat membuat sebuah keputusan penting bersama-sama?
•    Apakah Anda berdua masih memiliki tujuan bersama di masa depan?
•    Apakah Anda berdua masih dapat tertawa bersama?
•    Apakah Anda ,masih memiliki banyak waktu untuk makan bersama?
•    Apakah Anda masih memiliki kepedulian satu sama lain?
•    Apakah Anda dapat masih dapat menikmati kedekatan fisik satu sama lain?
•    Terlepas dari semua masalah yang menimpa hubungan Anda dengan pasangan, apakah Anda untuk menjalin kembali hubungan Anda yang sudah retak dengan pasangan?

Dari jawaban yang Anda buat, Anda dapat menelaah sendiri, apakah hubungan Anda dengan pasangan masih dapat dipertahankan atau terpaksa harus diakhiri. Tentu saja jika jawabannya sebagian besar “ya” berarti Anda siap untuk memulai hubungan Anda dengan pasangan kembali. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dan tidak boleh dilakukan. “Terkadang, masing-masing pihak harus menahan diri bahkan berkorban untuk membenahi hubungan. Rasanya seoleh menelan pil pahit memang. Tetapi itulah satu-satunya cara untuk memanfaatkan kesempatan kedua”, ungkap David.

Honeymoon kedua dan “PR”. Salah satu cara yang paling umum disarankan para ahli atau penasehat perkawinan adalah melakukan perjalanan bersama atau bulan madu kedua. Manfaat bulan madu kedua memang bukan “isapan jempol”. Kerap kali pasangan dalam krisis, merasakan cinta yang lebih segar, hangat dan indah sepulang dari “bulan madu”. Namun tak jarang, beberapa pasangan kembali dihadang badai, yang barangkali lebih keras dibandingkan sebelumnya.
David berpendapat, kegagalan pasangan sepulang bulan madu, disebabkan mereka seringkali lupa mengerjakan “PR”, yang seharusnya mereka kerjakan selama dan sesudah “bulan madu”. “Pasangan suami-istri biasanya terlalu yakin bahwa masalah secara otomatis akan sirna melalui bulan madu kedua. Padahal, dalam membina rumah tangga, memelihara hubungan suami-istri tak berjalan dengan sendirinya. Perlu daya dan upaya ekstra,” jelas David.

Krisis rumah tangga tak mungkin tidak meninggalkan bekas luka. Rasa tidak percaya tak otomatis beralih menjadi rasa saling percaya. Rasa kesal tak lantas lenyap dari hati. Meskipun beberapa hari disisihkan bersama untuk melewatinya dengan indah dan memperbaiki hubungan. Artinya, prinsip yang harus sama-sama diyakini bukanlah melupakan masalah, melainkan memperbaiki akar masalah.

Komunikasi tentu modal utama. Jika Anda merasa perlu mendapat pelatihan komunikasi efektif pernikahan atau berkonsultasi, fokuskan upaya perbaikan dengan melatih ketrampilan berkomunikasi. Sehingga, bulan madu tak mengalir tanpa arah. Padahal jelas, Anda berdua ingin mencapai sebuah perbaikan. Menurut studi yang pernah dilakukan David, pasangan suami-istri bahkan dapat mengatasi masalah saat masih dalam proses saling belajar berkomunikasi dan mengkomunikasikan diri.
Prinsip berikutnya, setelah mencapai perbaikan, Anda berdua harus membangun kembali hubungan akibat keretakan yang sempat terjadi. Modal utamanya adalah kompromi.

Dengan sikap saling membuka diri untuk berkompromi, maka beberapa kesepakatan baru dapat dibuat, dan perubahan akan terjadi. Percayalah, perubahan yang Anda jumpai ini – baik atau buruk – bukanlah hasil kerja “tangan-tangan ajaib”. Melainkan kerja keras, daya dan upaya berdua dalam mengelola kembali hubungan terindah yang Anda jalin bersama pasangan hidup. Semoga berhasil!

Sumber: http://www.ayahbunda.co.id

Kecerobohan Orang Tua yang Membahayakan

Tindakan sepele yang tidak disadari bisa mencelakakan si kecil. Bersikaplah hati-hati dan cermat saat bersama anak! Cobalah ingat-ingat saat membaca beberapa situasi berikut. Pernah melakukannya?! Mudah-mudahan setelah baca tulisan ini, Anda tak pernah lagi melakukannya.

  • Situasi: Anda sedang memandikan bayi. Bel pintu atau telepon berbunyi.
    Kesalahan: Bergegas meninggalkan bayi tanpa sadar ia berada di bak mandi
    Ralat: Angkat bayi, bungkus dengan handuk dan bawa ia menjawab telepon atau membukakan pintu. Atau letakkan bayi di boks, baru mengerjakan hal lain
  • Situasi: Anda sedang mengganti popok atau mendandani bayi di atas baby taffel lalu akan mengambil bedaknya di lemari lain
    Kesalahan: Meninggalkan bayi di atas baby taffel atau tempat tinggi dan tidak terlalu luas. Sesaat saja Anda lalai, si kecil bisa terjatuh
    Ralat: Yakinkan segala yang Anda butuhkan sudah ada di dekat Anda sebelumnya
  • Situasi: Anda menggendong bayi saat memasak. Begitu pula saat memegang cangkir berisi teh atau kopi panas
    Kesalahan: Situasi di atas sudah sangat salah! Gerakan bayi sangat cepat dan kerap tak terduga. Ia bisa mengalami luka baker
    Ralat: Memasak dan menggendong bayi tidak bisa dilakukan bersama. Pilih salah satu!
  • Situasi: Anda sedang mengambil nasi dari rice cooker, si kecil merengek minta digendong.
    Kesalahan: Langsung memenuhi rengekannya
    Ralat: Tutup rice cooker, baru menggendong anak. Uap panas yang keluar dari rice cooker bisa membuat kulitnya melepuh
  • Situasi: Anda membersihkan rumah dengan vacuum cleaner alias penyedot debu.
    Kesalahan: Membiarkan si kecil bermain di dekat alat tersebut dengan alasan agar tetap terlihat ibu. Hal ini bukan hanya berbahaya karena dekat aliran listrik, namun juga jemari kecilnya bisa tersedot
    Ralat: Minta si kecil bermain di kamarnya. Anak malah bisa terkena debu bila tetap berada di dekat Anda. Bisa Anda merasa tak ‘dekat’ dengannya, pasang baby monitor.

sumber: http://www.ayahbunda.co.id

Persiapan Menyambut Calon Buah Hati

Bukan hanya para bunda yang mengalami kecemasan pasca hadirnya si buah hati, para ayah pun ternyata terkadang mengalami kecemasan akan peran baru mereka. Namun jangan kuatir, kebersamaan dengan si kecil akan mengatasi kecemasan Anda.

Bagi Anda para ayah, mungkin bertanya-tanya, mengapa saya tidak merasakan perasaan seperti yang dirasakan istri saya terhadap si kecil? Apakah si kecil menyukai saya? Apakah saya bisa menjadi seorang ayah yang baik? Apakah saya bisa memenuhi kebutuhan finansial keluarga? Atau Anda mungkin merasa stres karena rutinitas dan kebiasaan Anda dan istri menjadi berbeda.

Jangan khawatir, para ayah biasanya membangun hubungan dengan si kecil dengan cara mereka sendiri. Memang pada awalnya, munkin akan sulit mendapatkan respon dari si kecil. Namun jangan putus asa dan berkecil hati karenanya. Lambat laun, si kecil akan memberikan senyum dan anggukan kepalanya kepada Anda.

Tahun-tahun pertama memang biasanya ibu yang menjadi fokus perhatian si kecil. Namun Anda bisa memanfaatkan momen bermain di taman hiburan dengan si kecil untuk mempererat hubungan Dan ketika Anda dipusingkan dengan urusan popok, susu, dan makanan, ambillah peran ayah di taman bermain. Pastinya itu akan lebih melegakan dan menyenangkan untuk ayah.

Kadang muncul juga ketakutan dari para ayah apakah bisa menjadi seorang ayah yang baik? Takut kalau-kalau melakukan kesalahan sebagai seorang ayah. Itu adalah hal yang sangat alami. Yang pastinya, niat Anda menjadi seorang ayah yang baik harus cukup kuat. Temukan dulu, Anda ingin menjadi seorang ayah yang seperti apa? Ayah yang baik bukan berarti ayah yang sempurna.

Siap pada perubahan

Yang pastinya, memiliki anak berarti Anda harus siap kehilangan sedikit perhatian dari istri Anda. Seringkali para ayah merasa cemburu dengan si kecil karena perhatian yang diberikan istri kepada suami menjadi berkurang dan perhatian tersebut dilimpahkan kepada si kecil yang baru hadir. Inilah salah satu persiapan mental seorang ayah, agar tidak stres ketika si kecil hadir.

Sumber stres dan depresi seorang ayah juga bisa muncul karena Anda tidak mendapatkan tidur yang cukup dan harus menghadapi ritual yang berbeda, seperti membantu mengganti popok dan memberi makan, di samping pekerjaan Anda sehari-hari.

Kecemasan dan ketakutan memang merupakan hal yang wajar yang dialami ayah baru, terutama ketika istri tidak lagi bisa terlalu fokus pada kebutuhan Anda. Kecemasan akan peran sebagai ayah, perlindungan terhadap si kecil, pendidikannya kelak, masalah keamanan finansial, dan sebagainya, sangat mungkin terjadi.

Dan membangun hubungan antara ayah dengan anak memang membutuhkan proses, tidak secara instan. Jadi Anda harus bersabar dan teruslah mendampingi si kecil ketika ia membutuhkan Anda.