Peran Ayah dalam Menyusui

Berikut petikan pendahuluan dari disertasi S3 tentang peran Ayah dalam menyusui, yang berjudul “Peran Ayah dalam Optimalisasi Praktek Pemberian ASI: Sebuah Studi di Daerah Urban Jakarta”, oleh JUDHIASTUTY FEBRUHARTANTY (8 Januari 2008):

Inisiasi menyusui segera dan pemberian ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan adalah dua praktek pemberian ASI yang penting untuk kelangsungan hidup (Lawrence dan Lawrence, 2005; Edmond et al., 2006) dan pertumbuhan optimal bayi (Le et al., 2000; Villalpando and Lopez-Alarcon, 2000; Bhandari et al., 2003; Sumarno and Prihatini, 2004). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa inisiasi menyusui segera setelah persalinan berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif hingga 6 bulan (Hopkinson et al., 1997; León-Cava et al., 2002).
Beberapa poin yang menjadi kesimpulannya adalah:

  1. Hipotesis yang menyatakan bahwa “Ayah mendukung praktek pemberian ASI bila ayah memiliki pengetahuan yang baik tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemberian ASI, memiliki hubungan yang baik dengan ibu, dan juga terlibat dalam keharmonisan hubungan pola menyusui tripartit (yaitu antara ayah, ibu, dan bayi)” telah terbukti.
  2. Tipe-tipe peran ayah meliputi perannya dalam mencari informasi mengenai pemberian ASI dan pemberian makan bayi (peran 1), keterlibatan ayah dalam pembuatan keputusan mengenai cara pemberian makan anak saat ini (peran 2), pemilihan tempat untuk pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan/imunisasi (peran 3), tingkat keterlibatan ayah dalam kunjungan untuk pemeriksaan kehamilan (peran 4), memiliki sikap yang positif terhadap kehidupan pernikahannya (peran 5), dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan pengasuhan anak (peran 6). Tipe peran 3 adalah peran yang paling umum dilakukan ayah, sedangkan peran 2 adalah yang paling jarang dilakukan.
  3. Keterlibatan ayah dalam mencari informasi mengenai pemberian ASI diketahui sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap praktek inisiasi menyusui segera. Sedangkan keterlibatan ayah dalam pembuatan keputusan mengenai cara pemberian makan anak saat ini serta adanya sikap yang positif terhadap kehidupan pernikahannya adalah dua faktor yang mempengaruhi praktek pemberian ASI eksklusif. Namun, sangat disayangkan bahwa partisipasi ayah selama kunjungan untuk pemeriksaan kehamilan ditemukan sebagai faktor yang tidak mendukung praktek pemberian ASI.
  4. Perbedaan tipe peran ayah berhubungan dengan faktor yang berbeda-beda. Secara umum, memiliki satu anak, paparan terhadap media massa dan komunikasi interpersonal, pengetahuan yang baik mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemberian ASI, serta tingkat pendapatan yang lebih tinggi, berasosiasi positif dengan peran-peran ayah. Namun, hidup dalam keluarga inti menyebabkan ayah tidak dapat menjalankan perannya dengan baik.
  5. Secara umum, proporsi ayah yang memiliki semua peran yang mendukung adalah kurang dari setengah. Selain itu, proporsi ayah yang memiliki peran yang berpengaruh terhadap praktek pemberian ASI jauh lebih rendah lagi.

Comments are closed.