Kiat Sukses Bagi Pasangan Menghadapi Krisis

Semua masih lekat dalam ingatan Leva dan Deni, betapa manisnya awal cinta kasih mereka. Hingga akhirnya mereka bersatu dalam mahligai perkawinan. Masih lekat juga ingatan mereka, ketika si kecil hadir dalam rumah mungil hasil kerja keras bersama. Tetapi kini semua seolah lenyap ditelan bumi. Rumah demikian suram, si kecil menjadi rewel. Leva menangis di kamarnya. Deni di tempat lain, juga mempertanyakan ke mana arah bahtera perkawinan ini akan dibawa.

Memikirkan kesempatan kedua. Pertengkaran dan pertentangan dalam 5 – 7 tahun pernikahan bukanlah sesuatu yang janggal. Demikian hasil berbagai studi yang pernah dilakukan. Namun ketika kemarahan dan perseteruan berlanjut menjadi rasa kecewa dan luka mendalam, biasanya masing-masing pasangan mulai berpikir, “Bagaimana hubungan kami bisa menjadi seburuk ini?”.

Menurut David Wilchfort, terapis perkawinan di Munich, Jerman, menekankan agar pasangan muda tidak tergesa-gesa memutuskan untuk mengakhiri hubungan. “Sebuah kesempatan kedua bisa menjadi pilihan dan sukses dilalui banyak pasangan suami-istri dalam krisis,” jelasnya. Syaratnya, masing-masing pasangan melangkah bersama dengan pandangan yang tepat, terutama terhadap upaya membangun kembali “puing-puing” rumah tangga yang sempat berserakan.

Tentu saja sayang meninggalkan begitu saja kenangan manis yang pernah Anda alami berdua pasangan. Jika Anda masih memiliki harapan  bersama pasangan untuk berjuang meniti masa depan, Anda perlu mengikuti saran David untuk menjawab beberapa pertanyaan kritis.

Pertanyaan-pertanyaan kritis.
Leva dan Deni sebenarnya menyadari bahwa ketika hubungan mereka tak lagi dapat disatukan, jika dilihat dari aspek manapun, maka perkawinan mereka terancam bubar. Namun sebagaimana pasangan lain yang juga sedang dalam  krisis, hari-hari begitu membingungkan. Di suatu hari, masalah mereka nampak begitu jelas, dan tak ada lagi yang dapat diselamatkan. Tapi di hari lain, masing-masing masih merasa saling menyayangi dan menyesal, mengapa hubungan mereka retak.

Untuk meluruskan benang kusut dalam hati pasangan seperti Leva dan Deni, David menyarankan masing-masing untuk mempertanyakan diri mereka secara kritis. Lalu jawab dalam hati.  Berikut pertanyaan-pertanyaan yang akan membawa masing-masing kepada jawaban, ke mana rumah tangga ini akan dibawa.
•    Apakah salah satu dari Anda bersikap tidak loyal satu sama lain?
•    Apakah Anda masih saling menghormati satu sama lain?
•    Apakah Anda bersama-sama dapat berkembang dalam perkawinan ini?
•    Apakah Anda berdua masih dapat membuat sebuah keputusan penting bersama-sama?
•    Apakah Anda berdua masih memiliki tujuan bersama di masa depan?
•    Apakah Anda berdua masih dapat tertawa bersama?
•    Apakah Anda ,masih memiliki banyak waktu untuk makan bersama?
•    Apakah Anda masih memiliki kepedulian satu sama lain?
•    Apakah Anda dapat masih dapat menikmati kedekatan fisik satu sama lain?
•    Terlepas dari semua masalah yang menimpa hubungan Anda dengan pasangan, apakah Anda untuk menjalin kembali hubungan Anda yang sudah retak dengan pasangan?

Dari jawaban yang Anda buat, Anda dapat menelaah sendiri, apakah hubungan Anda dengan pasangan masih dapat dipertahankan atau terpaksa harus diakhiri. Tentu saja jika jawabannya sebagian besar “ya” berarti Anda siap untuk memulai hubungan Anda dengan pasangan kembali. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dan tidak boleh dilakukan. “Terkadang, masing-masing pihak harus menahan diri bahkan berkorban untuk membenahi hubungan. Rasanya seoleh menelan pil pahit memang. Tetapi itulah satu-satunya cara untuk memanfaatkan kesempatan kedua”, ungkap David.

Honeymoon kedua dan “PR”. Salah satu cara yang paling umum disarankan para ahli atau penasehat perkawinan adalah melakukan perjalanan bersama atau bulan madu kedua. Manfaat bulan madu kedua memang bukan “isapan jempol”. Kerap kali pasangan dalam krisis, merasakan cinta yang lebih segar, hangat dan indah sepulang dari “bulan madu”. Namun tak jarang, beberapa pasangan kembali dihadang badai, yang barangkali lebih keras dibandingkan sebelumnya.
David berpendapat, kegagalan pasangan sepulang bulan madu, disebabkan mereka seringkali lupa mengerjakan “PR”, yang seharusnya mereka kerjakan selama dan sesudah “bulan madu”. “Pasangan suami-istri biasanya terlalu yakin bahwa masalah secara otomatis akan sirna melalui bulan madu kedua. Padahal, dalam membina rumah tangga, memelihara hubungan suami-istri tak berjalan dengan sendirinya. Perlu daya dan upaya ekstra,” jelas David.

Krisis rumah tangga tak mungkin tidak meninggalkan bekas luka. Rasa tidak percaya tak otomatis beralih menjadi rasa saling percaya. Rasa kesal tak lantas lenyap dari hati. Meskipun beberapa hari disisihkan bersama untuk melewatinya dengan indah dan memperbaiki hubungan. Artinya, prinsip yang harus sama-sama diyakini bukanlah melupakan masalah, melainkan memperbaiki akar masalah.

Komunikasi tentu modal utama. Jika Anda merasa perlu mendapat pelatihan komunikasi efektif pernikahan atau berkonsultasi, fokuskan upaya perbaikan dengan melatih ketrampilan berkomunikasi. Sehingga, bulan madu tak mengalir tanpa arah. Padahal jelas, Anda berdua ingin mencapai sebuah perbaikan. Menurut studi yang pernah dilakukan David, pasangan suami-istri bahkan dapat mengatasi masalah saat masih dalam proses saling belajar berkomunikasi dan mengkomunikasikan diri.
Prinsip berikutnya, setelah mencapai perbaikan, Anda berdua harus membangun kembali hubungan akibat keretakan yang sempat terjadi. Modal utamanya adalah kompromi.

Dengan sikap saling membuka diri untuk berkompromi, maka beberapa kesepakatan baru dapat dibuat, dan perubahan akan terjadi. Percayalah, perubahan yang Anda jumpai ini – baik atau buruk – bukanlah hasil kerja “tangan-tangan ajaib”. Melainkan kerja keras, daya dan upaya berdua dalam mengelola kembali hubungan terindah yang Anda jalin bersama pasangan hidup. Semoga berhasil!

Sumber: http://www.ayahbunda.co.id

Comments are closed.